| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Tuesday, December 13, 2005,5:23 PM
ENLIGHTENMENT, KEMODERNAN EROPA DAN KITA
Enlightenment dan Kemodernan Eropa

Zaman pencerahan di Eropa pada abad ke 18 adalah sering dikaitkan dengan kemodernan Eropa, baik pemikiran maupun institusi politik dan sosial. Sebagai contoh, Revolusi Perancis yang tercetus pada 1789, dikatakan, sebagai pengaruh filsafat pencerahan, termasuk para filsof perancis, seperti Voltire, Holbach, D’Alembert dan lainnya. Dimana perubahan pemikiran telah membawa kepada perubahan sosial dan institusional yang kemudian membawa eropa pada era modern.

Memang tidak dapat dinafikan bahwa perubahan tersebut tidak dengan serta-merta, melainkan didahului oleh beberapa rentetan peristiwa yang saling berkaitan, seperti zaman Renaissance dan gerakan Reformation di abad 16, juga Revolution of Science di abad ke 17. Rentetan atau rangkaian proses ini, kemudian disebut “Rationalization” oleh Max Weber. Rationalization terlihat pada adanya reinterpretasi agama katolik, rasionalisasi agama, bahkan, bagi kalangan tertentu, adalah penolakan agama, seperti filsafat ateis-nya David Hume dan D’Holbach.

Dan memang harusi diakui bahwa kejayaan science dan adanya penegasan classical physic oleh Newton pada abad ke 17 telah memberi keyakinan bahwa manusia dapat mencapai kejayaan tanpa harus patuh pada otoritas agama. Agama dianggap sebagai penghambat kemajuan dan bertentangan dengan filsafat progresif. Bahkan Agama Katolik juga telah dikaitkan dengan zaman pertengahan yang statis dan tidak progresif. Sikap pemikir-pemikir zaman pencerahan di abad ke 18 tidaklah semuanya sama. Ada yang menolak agama dan Ketuhanan seperti David Hume, di samping ada juga yang menerimanya seperti Locke dan Kant. Namun penerimaan mereka bukanlah berdasarkan kepercayaan atau penerimaan otoritas Gereja semata, melinkan lebih didasarkan pada pemikiran dan hujjah-hujjah rasional mereka terhadap agama.

Pada zaman pencerahan juga terlihat adanya perkembangan bidang epistemologi, atau teori ilmu di dalam filsafat. Para ahli epistemologi seperti Hume, Locke dank Kant mulai mencoba mengupas persoalan mendasar, sifat ilmu, serta peranan yang dimainkan oleh akal-budi manusia dalam menghasilkan ilmu. Tujuannya ialah untuk memahami bentuk ilmu yang dihasilkan oleh manusia, dan sejauhmana ia bisa dipercayai serta untuk mewujudkan satu landasan rasional bagi penerimaan ilmu, yang kini asas penerimaannya tidak lagi didasarkan pada otoritas agama. Akal digunakan untuk mendirikan landasan kebenaran sendiri bagi ilmu itu sendiri. Pendekatan “Foundationalisme” ini adalah merupaka satu ciri zaman pencerahan yang sangat menggantungkan pada kemampuan akal manusia serta rasionalitas.

Apa Yang Bisa Kita Pelajari Dari Enlightenment Di Eropa Sana?

Pertanyaan ini bukan mudah untuk dijawab, karena ia menyangkut aspek historis dan universal. Bersifat historis, karena memang sejarah pengalaman Eropa adalah unik dan berbeda dengan pengalaman sejarah islam atau lebih khusus lagi Indonesia. Namun di samping itu, juga bersifat universal, berupa penekanan pada rasionalisme dan empirisme, yang kemudian menjadi dua pilar utama bagi pendekatan para scientists yang telah terbukti membuahkan hasil science dan teknologi sebagai konstribusi bagi pemodernan Eropa.

Disamping itu, pertanyaan tersebut juga akan terus menguji pencerahan yang salama ini didengungkan oleh sebagian kelompok di Indonesia, di samping gagalnya kemodernan Eropa dalam menjelaskan eksistensi manusia dan makna hidup kerena telah menafikan unsur wahyu dan spritualitas dalam agama. Bukankah sebagian scientist barat juga mentok dan mereka mengakui adanya “unbreakable law” (kalau dalam tradisi islam disebut Qada’dan Qadar) dalam nature, ketika mereka berbicara tentang beberapa kemungkinan yang diakibatkan oleh “Time Reversal”, walau hal ini hanya merupakan kalkulasi matematik murni (insyaallah pada kesempatan lain kita bicara ini, kembali pada topic lagi).

Dalam konteks yang demikian, kita harus lebih berhati-hati dalam melakukan percobaan menjadikan pengalaman Eropa sebagai acuan bagi gerakan Reformasi masyarakat di indonesia, karena apa yang sesuai bagi Eropa belum tentu sesuai bagi kita. Sebagai contoh gerakan Pencerahan di Eropa tidak hanya dikaitkan dengan pembebasan dari belenggu pemikiran medieval dan traditional, tetapi juga dengan skularisme dan atheisme barat. Dan proses ini bisa dianggap ‘progresif’ dalam beberapa hal karena Gereja Roman Katolik memang nyata-nyata menindas dan membelenggu kebebasan berpikir. Hal ini terbukti dengan adanya tragedi konflik Gereja dan Galileo pada abad ke 17. Sementara, islam dan masyarakat Indonesia tidak mempunyai pengalaman seperti itu, sehingga skularisme dalam islam menjadi tidak wajar, begitu juga wujud atheisme menjadi salah kaprah di Indonesia, walau kata HAM itu adalah termasuk Human Right -:).

Sebagai kesimpulan adalah bahwa medernisasi masyarakat Indonesia harus disesuaikan dengan nilai-nilai yang dimiliki, dan pengalaman Eropa bisa dijadikan pelajaran secara selektif dengan tidak menyerupai 'taqlid buta'. Dan jika 'taqlid buta' yang terjadi, maka kita telah terjebak ke dalam satu lagi dogmatisme baru yang dengan sendirinya bertentangan dengan semangat enlightenment.

4 Comments:

Anonymous zalvin said...

Dear Muh. Hadi,

saya tertarik membaca tulisan anda yg berjudul : "ENLIGHTENMENT, KEMODERNAN EROPA DAN KITA"

saya dan teman2 memiliki satu website khusus yang membahas mengenai Eropa yaitu www.kajianeropa.org

apakah kami bisa menulis ulang tulisan anda tersebut dan mempublish-nya di website kami? kami ingin mengajak anda bekerja sama.

Terima Kasih

11:14 PM  
Blogger Muhammad Hadi said...

Dear Zalvin
dengan senang hati mas zalvin. tq

3:47 AM  
Anonymous rahasia bisnis said...

Modern bukan berarti menelan yang baru,tapi mana yang sesuai budaya,keingingn kita .liat jepang modern tapi tetap kuno jatidirinya

11:08 AM  
Anonymous tips sukses said...

Mari modern,dalam berpikir tapi tetap indonesia,bangsa yang tiada duanya

11:10 AM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home