| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Thursday, December 29, 2005,1:08 PM
BERPACU DENGAN SANG WAKTU

Sebuah renungan menjelang tahun baru 2006

Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun (QS: 70:4)

Walaupun qur’an telah empat belas abad yang silam memberi informasi tentang waktu, namun waktu tetap menjadi teka-taki yang memisteri dalam hidup manusia. Dan menariknya, obsesi menguak misteri waktu telah menjadi bagian dari naluri kemanusian hampir sejak manusia ada di muka bumi. Taruhlah contoh kebingungan yang dialami oleh seorang novelis Inggris, J.B. Priestly mengatakan, “When we pursue the meaning of time, we are like a knight on a quest, condemned to wander through innumerable forests, bewildered and baffled, because the magic beast he is looking for is the horse he is riding.”

Manusia, sejak duhulu kala, telah terobsesi untuk membikin deal yang tepat dengan waktu serta mencoba menangkap makna sang waktu. Taruhlah contoh ungkapan sederhana yang sering kita dengar dalam keseharian kita, “menghemat waktu”, ”memboros waktu”, “membuang-buang waktu”, “menyia-nyiakan waktu”, dan lain-lainnya. Hal ini juga terlihat dari beberapa pepatah, seperti “The time is money”, “al-Waktu ka al-syaif” dan lainnya. Apa sebenarnya waktu serta bagaimana sifatnya?

Iwan Fals menjawab pertanyaan tersebut bahwa waktu adalah sombong. Ini terlihat dalam bait lagunya yang mengatakan “tergilas oleh waktu yang sombong”. Lebih menarik lagi, anggapan ini diyakini oleh banyak orang bahwa waktu adalah angka-angka yang terus berjalan seiring jarum jam dan sama sekali tidak pernah menunggu siapapun, termasuk alam semesta mengalami penyusutan dan menjadi kian menua disebabkan oleh derap langkah waktu yang tak kompromi itu. Tak satupun terlepas dari kerusakan yang disebabkan oleh derap waktu.

Walau demikian, bagi sebagian kalangan filsof lain lagi, waktu tidak sombong, ia tergantung pada manusia. Dulu ketika saya masih telaten baca buku-buku filsafat, ada sebuah ungkapan yang sangat menarik dari kalangan filsof bahwa waktu tidak seperti yang kita bayangkan, yakni berupa deretan panjang titik-titik yang berupa angka-angka bermula dari angka 0 – 2006 sekarang, melainkan ia adalah sebuah entitas yang ada yang terpisah dari angka-angka, dimana seseorang dapat ‘bersetubuh’ dengannya.

Semakin banyak orang ‘bersetubuh’ dengan waktu maka semakin banyak ia mempunyai waktu. Taruhlah contoh, adakalanya orang lebih muda secara kalender, yakni berupa detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan seterusnya. Namun orang tersebut mempunyai pengalaman, kemampuan serta kedewasaan yang lebih dibanding dengan orang yang lebih tua secara kalender. Hal ini, menurut kalangan filsof, disebabkan oleh kadar empati seseorang terhadap waktu. Sehingga, senioritas seseorang tidak lagi didasarkan pada usia kalender, melainkan seberapa lama ia ‘bersetubuh’ secara efesien dengan waktu. Waktu, menurut pendapat ini, adalah bukan angka-angka yang terus berjalan dan tidak sombong seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang.

Lebih menarik lagi, kalangan scientist mempunyai persepsi yang berbeda dengan orang awam dan para filsof. Taruhlah contoh, Einstein yang mendifinisikan waktu adalah sebagai tujuan-tujuan eksprimental yang dapat diukur dengan jarum jam. Ketika itu waktu adalah angka-angka, karena menurut scientist waktu hanya dapat diukur dengan jarum jam. Namun bersamaan dengan itu pula, Einstein telah membuat perembesan teori ralativitas-nya yang kemudian mengahasilkan sebuah kesimpulan bahwa waktu adalah berjalan serta relative, manusia dapat melunakkan derap laju waktu yang kata orang awam tak kenal kompromi itu.

Dari sinilah kemudian para scientist merubah kata-kata kebingungan dan pasif di atas menjadi aktif-rasional, yakni dengan kata ”Compete With The Time..”, yang didasarkan pada penemuan zona-zona waktu yang relative serta beberapa formula yang dapat melunakkan waktu. Sehingga raltivitas dan melunaknya sang waktu adalah sebuah realitas.

Relativitas waktu dalam qur’an
Empat belas abad yang silam, Qur’an telah memberi informasi adanya konsep ralativitas waktu, waktu berbeda-beda sesuai dengan lingkungan. Hal ini terjadi, dimana tak seorang pun dalam rentang sejarah manusia, pernah menjelaskan relativitas waktu secara jelas sebelumnya, serta sebelum ilmuan raksasa Einstein membuktikan adanya relativity of time dengan Theory of Relativity, Einstein menjelaskan waktu adalah bergantung pada mass dan volocity.
berikut ini beberapa informasi qur’an tentang waktu yang ralative itu :

Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu (QS: 22:47).

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (QS: 32:5)

Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun (QS: 70:4)

Dalam versi yang lain qur’an menyatakan bahwa seseorang merasakan waktu dengan kadar yang berbeda, adakalanya terasa sangat pendek dan adakalanya terasa sangat panjang. Dibawah ini qur’an merekam sebuah percakapan manusia setelah selesai khisab di alam baka sana, mungkin ini sebuah contoh yang agak menarik dan tanpa kita sadar, dengan adanya relativitas waktu itu, ternyata hidup kita di dunia ini hanyalah sebuah persinggahan sejenak..!

Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?", Mereka menjawab: "Kami tinggal sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.", Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui " (QS: 23:122-114)

Jelas bahwa fakta relativity of time telah disebutkan secara jelas dalam qur’an jauh empat belas abad yang silam dan ini sekaligus adalah sebagai evidence bahwa al-Quran adalah kitab suci. Allahu Akbar..

Berpacu dengan waktu
Waktu yang relative itu adalah berjalan, dan kita dapat berpacu dengannya. Waktu akan semakin lambat di saat kita bergerak. Ia juga menjadi semakin lambat seiring dengan bertambahnya kecepatan kita, yang berarti bahwa suatu saat nanti seorang astronot dapat hidup lebih lama di angkasa dan ia akan kembali ke bumi pada masa jauh yang akan datang. Jika seseorang mampu bergerak secepat cahaya, 186,282 mil per detik, maka waktunya akan menjadi diam tak berjalan. Dan jika ia mampu bergerak lebih cepat dari pada cahaya maka waktunya akan menjadi melunak dan mundur, dan ia telah berhasil mendahului waktu.

Meskipun kalangan ilmuan belum menemukan bentuk partikel yang mampu bergerak secepat atau lebih cepat dari cahaya, namun percobaan para scientist telah membuktikan bahwa kecepatan gerak akan menyebabkan waktu objek yang bergerak menjadi lunak. Dan hal ini telah diprediksikan oleh Albert Einstein pada tahun 1905, ketika dia memperkenalkan konsep relativitas waktu yang menjadi bagian dari teori menomentalnya, Theori of Relativity. Dan lebih menarik lagi, sampai sekarang pencarian terhadap partikel yang mempunyai kecepatan melebihi cahaya masih terus berlangsung dan mungkin ia kelak akan menjadi pintu masuk bagi manusia ke zaman lampau sekaligus zaman akan datang.

Para ilmuan juga telah berhasil mendemontrasikan bahwa pada hakekatnya orang yang bepergian dengan pesawat terbang adalah seperti sebuah kunjungan singkat ke singgasana keremajaan. Contoh, pada tahun 1972 para ilmuan meletakkan empat jam atomik pada sebuah pesawat yang terbang mengelilingi bumi. Di luar dugaan, dalam percobaan ini para ilmuan menemukan gerak jarum jam di pesawat tersebut sedikit lebih lamban dibanding gerak jarum jam di bumi. Yang hal ini juga berarti, jika kamu terbang mengelilingi bumi, alangkah baiknya terbang ke arah timur untuk memperoleh keuntungan bertambahnya kecepatan gerak yang disebabkan oleh rotasi bumi. Percobaan di atas jelas bahwa jarum jam telah memperlihatkan ketika kamu kembali ke bumi lebih muda dibanding hanya tinggal di rumah, walau hanya beberapa juta detik saja. Walau sangat kecil selisih waktu tersebut, percobaan tersebut telah membuktikan bahwa waktu dapat melunak. Lebih dari itu, jam atomik juga telah menunjukkah bahwa waktu akan semakin melunak dengan bertambahnya kecepatan.

Kalau kita mau berimajinasi, sebuah contoh futuristik yang dapat kita nantikan adalah sebuah pasawat ruang angkasa dengan kecepatan ultra. Bayangkan seorang astronot yang mempunyai saudara kembar tinggal di bumi. Jika ia pergi ke sebuah bintang yang paling dekat dengan bumi dengan kecepatan separuh cahaya, maka ia akan menempuh perjalanan selama 18 tahun. Ketika kembali ke bumi, maka secara fisik akan lebih muda dua tahun dibanding saudara kembarnya, kasus ini dikenal dengan sebutan ”twin paradox”. Karena waktu di di luar angkasa sana dimana pesawat ruang angkasa terbang lebih lambat dibanding waktu bumi. Jadi umur astronot tersebut adalah usia normal, disebabkan ia ada di zona waktu yang lebih lambat dibanding waktu bumi. Itu adalah contoh melambatnya waktu, tentu, masih belum dirasakan oleh pesawat ruang angkasa manapun. Hal ini hanya didasarkan pada sebuah proyeksi matematik murni.

Disamping itu, kecepatan bukanlah satu-satunya faktor yang melambatkan waktu, melainkan gravitasi juga ikut mempengaruhi waktu. Einstein telah mendeterminasikan hal ini dalam toeri relativitasnya bahwa kekuatan objek gravitasi mampu melengkungkan planet pada medan gravitasinya. Ketika gravitasi melengkungkan planet, menurut einstien, maka gravitasi pasti juga melengkungkan waktu, karena planet dan waktu saling terkait dan berhubungan.

Beberapa percobaan jam atomik telah memberi pembenaran terhadap kalkulasi Einstein bahwa semakin mendekati kor bumi, yang menjadi pusat gravitasi, maka semakin lamban waktu. Hal ini berarti juga akan mempengaruhi lambatnya penuan usia seseorang. Diantara percobaan tersebut adalah dengan memindahkan sebuah jam atomik dari National Bureau of Standards ke Washington, D.C. yang lebih dekat dengan pantai, kemudian jam tersebut dipindah beberapa mil ke tempat yang lebih tinggi, Denver. Hasilnya adalah bahwa jam di Denver lebih cepat, dengan beberapa selisih detik, dibanding ketika di Washington. Hal ini semakin jelas bahwa waktu adalah relative dan sangat bergantungan dimana ia wujud.

Perjalanan ke masa lampau
Dengan ultra high speed tidak mustahil orang akan mempunyai akses ke masa lampau, time reversal, karena dengan kecepatan tersebut waktu akan bergerak mundur. Namun walau demikian, tidak sedikit ilmuan yang skeptis terhadap adanya time reversal. Karena adalah mustahil dan tidak masuk akal baik secara sebab maupun akibat hal tersebut dilakukan oleh manusia. Berjalan ke masa lampau, menurut ilmuan skeptis, berarti akan memperbolehkan seseorang melakukan sesuatu pada masa lampau yang merubah masa sekarang. Kalangan skeptis khawatir kemungkinan seseorang yang mempunyai akses ke masa lampau melakukan pencegahan terhadap kelahirannya sendiri.

Namun, kalangan ilmuan yang open minder tetap mengakui adanya time reversal. Mereka mengatakan bahwa time treveler yang merubah masa lampau berarti membuka pintu sejarah alternatif, dari pada menginterfensi sejarah yang telah kita ketahui. Contoh, jika seseorang mencegah pembunuhan Abrama Lincoln, kemudian bangunan garis sejarah baru akan tercipta. Hal ini jelas terlihat bahwa sejarah alternatif tersebut, dimana tidak ada lagi pembunuhan Lincon, adalah sama sekali terpisah dan adanya pembunuhan tersebut tetap adanya. Jadi tidak ada perubahan yang akan dibuat oleh time treveler terhadap keberadaan sejarah. Atau kemungkinan lain ialah adanya unbreakable law (dalam tradisi islam disebut ketetapan Allah) pada nuture yang mencegah seseorang melakukan perubahan pada masa lampau.

Perjalanan ke masa mendatang
Jika kita telah menemukan sumber energi yang mempunyai kecepatan melebih cahaya, kita akan mempunyai akses tidak hanya pada masa lampau melainkan juga pada yang akan datang. Bayangkan, umpama seseorang melakukan perjalanan ke Spiral Nebula di Galaksi Andromeda sana dengan kecepatan ultra tinggi. Lokasi tujuan tersebut adalah 1,500,000 kecepatan cahaya. Dengan kecepatan ultra, seseorang mampu melakukan perjalan hanya beberapa waktu saja. Jika semua berlangsung dengan baik, maka ia kembali ke bumi pada masa 3,000,000 tahun di masa akan datang. Karena banyak waktu bumi yang telah dilewati oleh kecepatan tersebut.

Jika kelak ditemukan ultra high speed, akankah kita mampu menguasai energi waktu yang membolehkan kita masuk secara singkat ke masa lampau dan masa mendatang? Jika kita kembali ke masa lampau, akankah kita mampu merubah kesalahan kita di masa lampau? Atau kita menggunakan pengalaman kita untuk kembali lebih baik pada putaran waktu yang kedua? Begitu juga, jika kita mempunyai akses ke masa mendatang, akankah kita dapat memberi prediksi-prideksi atau ramalan jitu, atau melakukan tindakan preventif terhadap kemungkinan yang tak diinginkan?

Akankah kita mampu melakukan perjalanan singkat ke masa mendatang nan jauh itu dimana cucunya cucu kita hidup, sebagaimana seseorang yang mempercepat kaset filem? Sehingga kita dapat mengetahui semua alur cerita filem tersebut, sebelum orang lain mengetahuinya. Tak seorangpun dapat menentang keras kemungkinan ini, karena hanya waktu-lah yang akan menjawab. Tak sedikit nabi ataupun orang bijak yang mempunyai tanda pengusaan terhadap energi waktu.

HAPPY NEW YEAR 2006..!

1 Comments:

Blogger drmandangmichael@gmail.com said...

Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi. Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa. Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.

6:13 PM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home